Kami mulai dari antrean loket
Cerita pendek kenapa Visennji ada, dan apa yang kami pegang sampai sekarang.
Awalnya dari tumpukan kertas tagihan
Bayangkan kamu antre di loket pembayaran air desa. Petugasnya membongkar tumpukan kertas satu per satu, lalu menjumlahkan manual. Begitulah Avisenna, pendiri Visennji, pertama kali melihat masalahnya.
Di loket itu juga dia menawarkan diri membuatkan aplikasi. Proposalnya sempat lama tanpa kabar, lalu diobrolkan lagi dengan direkturnya. Akhirnya disepakati, dan aplikasinya diberi nama Amerta.
Amerta membuktikan satu hal buat kami. Kerjaan yang dimaklumi karena dari dulu memang begitu ternyata bisa beres. Dari situ Visennji berdiri, sebagai teman yang mendengar dulu, baru membereskan.
Lima hal yang kami pegang
-
Menemani, bukan menggurui
Kamu paling paham pekerjaanmu, kami paham alatnya, jadi posisi kita sejajar.
-
Ngomong pakai bahasa sehari-hari
Semua bisa dijelaskan tanpa istilah aneh yang bikin kamu bertanya dua kali.
-
Beres itu utama
Kami tidak jualan daftar fitur, yang kami kejar pekerjaanmu benar-benar selesai.
-
Gampang dipakai siapa saja
Kalau satu tombol perlu dijelaskan panjang lebar, buatan kami yang belum pas.
-
Jujur kalau belum bisa
Lebih baik bilang belum sanggup lalu cari jalan lain, daripada menjanjikan yang mustahil.
Kenalan dulu, yuk
Avisenna Puntoaji
Pendiri Visennji
Saya Avisenna. Visennji berawal di antrean loket, waktu saya mau bayar tunggakan air desa dan petugasnya membongkar tumpukan kertas. Yang salah bukan petugasnya, alatnya saja yang belum ada, jadi saya tawarkan diri membuatkan.
Ceritamu mirip? Ayo ngobrol
Cerita saja lewat WhatsApp, gratis, dan tidak ada kewajiban apa pun setelahnya.